-->

Kisah Cinta Ayah Dan Ibunda Bung Karno

Kisah Cinta Ayah Dan Ibunda Bung Karno


KISAH CINTA AYAH BUNDA BUNG KARNO

Semasa mudanya, ibu menjadi gadis pura yang pekerjaannya membersihkan rumah ibadat itu setiap pagi dan petang. Bapak bekerja sebagai guru sekolah rendah Gubernemen di Singaraja Bali, dan setelah selesai sekolah sering datang ke gubuk di muka pura tempat ibu bekerja untuk menikmati ketenangannya. Pada suatu hari ia melihat ibu. Pada kesempatan lain, ketika duduk lagi di gubuk itu, ia melihat ibu sekali lagi. Setelah sore demi sore berlalu, ia menegur ibu sedikit. Ibu menjawab. Segera ia merasa tertarik kepada ibu, dan ibu padanya.
Seperti biasanya menurut adat, bapak mendatangi orang tua ibu untuk meminta ibu secara beradat. "Bolehkah saya meminta anak ibu-bapak?" Orang tua ibu lalu menjawab, "Tidak bisa, engkau berasal dari Jawa dan engkau beragama Islam. Tidak, sekali-kali tidak! Kami akan kehilangan anak kami".
Seperti halnya sebelum perang dunia kedua, perempuan Bali tidak ada yang mengawini orang luar. Yang kumaksud bukan orang luar dari negara lain, akan tetapi orang luar dari pulau lain. Waktu itu tidak ada perkawinan campur antara satu suku dengan suku yang lain sama sekali. Kalaupun terjadi bencana semacam ini, maka pengantin baru itu diasingkan dari rumah orang tuanya sendiri.

Kembali kepada kisah bapakku, betapa sukarnya situasi ketika ia hendak mengawini ibu. Terutama karena ia resminya seorang Islam, sekalipun ia menjalankan Theosofi. Untuk kawin secara Islam, maka ibu harus menganut agama Islam terlebih dahulu. Satu-satunya jalan bagi mereka ialah kawin lari.
Kawin lari menurut kebiasaan di Bali harus mengikuti cara-cara tertentu. Kedua mempelai itu bermalam di malam perkawinannya di rumah salah seorang kawan. Sementara itu dikirim utusan kerumah orang tua gadis untuk memberitahukan bahwa anak mereka sudah menjalankan perkawinannya. Ibu dan bapakku mencari perlindungan di rumah Kepala Polisi yang menjadi kawan bapak. Keluarga ibu datang menjemputnya, akan tetapi Kepala Polisi itu tidak mau melepaskannya. "Tidak, dia berada dalam perlindungan saya," katanya.
Bukanlah kebiasaan kami untuk menghadapkan pengantin ke muka pengadilan, sekalipun orang tua tidak setuju. Akan tetapi kejadian ini adalah keadaan yang luar biasa ketika itu. Bapak seorang Islam Theosof dan ibu seorang Bali Hindu-Budha. Pada waktu perkara itu diadili, ibu ditanya, "Apakah lelaki ini memaksamu, bertentangan dengan kemauanmu sendiri?" Dan ibu menjawab, "Tidak, tidak. Saya mencintainya dan melarikan diri atas kemauan saya sendiri".
Tiada pilihan lain bagi mereka, kecuali mengizinkan perkawinan itu. Sekalipun demikian pengadilan mendenda ibu 25 ringgit, yang nilainya sama dengan 25 dollar. Ibu mewarisi beberapa perhiasan emas, dan untuk membayar denda itu ibu menjual perhiasannya.
Karena bapak merasa tidak disukai orang di Bali, ia kemudian mengajukan permohonan kepada Departemen Pengajaran untuk dipindahkan ke Jawa. Bapak dikirim ke Surabaya dan disanalah Putra Sang Fajar dilahirkan.

Dituturkan Bung Karno dalam buku: "Bung Karno. Penjambung Lidah Rakjat Indonesia

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Kisah Cinta Ayah Dan Ibunda Bung Karno"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel