Pusaka Pelindung Para Raja
Pusaka Pelindung Para Raja
meriwayatkan bahwa sosok yang namanya “Ir. Soekarno” ini, tak luput dari sosok manusia yang 'Linuwih", yakni memiliki kemampuan spiritual dan supranatural yang sangat tinggi. Sebab, dalam salah satu kalimatnya dikatakan “Manusia Indonesia seutuhnya, adalah manusia yang cerdik, pandai, cerdas, berilmu pengetahuan, religius, dan sekaligus mengetahui akar budaya bangsanya sendiri”.
Tokoh kaliber berkelas dunia ini, disebut pula sebagai sosok flamboyant, gagah gesturnya, berpenampilan dendy, humoris dan sangat paham betul dengan persoalan bangsanya sendiri. Barangkali, inilah yang menjadi kekuatan utama “Bung Karno”, sebagai orang nomor satu sekaligus sang Proklamator di Republik ini.
Selain memiliki kemampuan dalam berbagai bidang, Bung Karno juga dikenal sebagai penyambung lidah rakyat. Hal inilah yang menyebabkan ia begitu lekat dengan rakyatnya. Salah satunya yang menakjubkan ialah ketika Bung Karno melakukan pidato orasi di depan masyarakatnya.
Biasanya dalam setiap orasi itu, selalu dikobarkan semangat dan motivasi kepada rakyatnya untuk selalu menjaga NKRI, apapun resikonya. Bung Karno juga punya hoby melakukan kunjungan in conito (secara diam-diam), hal tersebut dilakukan agar bisa berbicara langsung dengan masyarakatnya.
Hanya saja, hal terberat bagi sang Proklamtor ini, adalah manakala dia dijauhi dengan rakyatnya. Sebab, menurut Guruh Soekarno Poetra, hal tersebut merupakan pukulan terberat bagi ayahnya, karena Bung Karno dijuluki sebagai “Penyambung Lidah Rakyat”.
“INDONESIA TEMPO DOELOE” juga meriwayatkan, bahwa bung Karno punya orang kepercayaan namanya “Pak Subuh” (Konon khabarnya generasi penerusnya lantas mendirikan ‘Yayasan Subud” di Jakarta Selatan). Nah, Pak Subuh inilah orang yang menjaga dan merawat berbagai benda pusaka yang dimiliki oleh Bung Karno.
Pak Subuh merupakan salah satu putera terbaik Indonesia dalam bidang khusus untuk merawat benda-benda pusaka, karena sosok ini, begitu tekun, teliti dan telaten jika berurusan dengan benda-benda bertuah sehingga para sejawatnya menyebut sebagai sosok yang “Mandiri dan Mumpuni”.
Atas arahan Bung Karno, benda-benda pusaka miliknya itu, lantas disimpan oleh Pak Subuh di salah satu ruangan istana, tak seorang pun boleh masuk ke ruang khusus tersebut, kecuali dirinya. Oleh Pak Subuh, benda-benda keramat tersebut dirawat dengan sangat cermat, apik dan teliti. Kalau sudah jatuh tempo benda-benda itu, lalu ditirakatkan, misalnya melalui puasa, bahkan sampai menjalani puasa mutih untuk melakoni penjamasan benda-benda tersebut.
Pak Subuh ini dengan senang hati mengerjakannya. Selanjutnya, entah hanya kebetulan atau sugesti, nyatanya Sang Proklamator ini sangat kharismatik, memiliki daya magnet yang luar biasa sehingga sangat disegani oleh berbagai lapisan masyarakatnya.
Adapun kisah-kisah dahsyatnya, manakala terjadi serangkaian pembunuhan di Jalan Cikini, Raya, di Jalan Pegangsaan dan lain-lainnya. Namun anehnya serangkai pembunuhan Bung Karno itu, mengalami kegagalan total, sekalipun pada jarak dekat.
Waktu demi waktu, sayangnya, cerita-cerita mengenai benda-benda pusaka yang pernah dimiliki istana sudah hampir tak terdengar lagi. Bahkan, semenjak Bung Karno lengser hingga wafatnya, benda-benda tersebut tidak diketahui dimana rimbanya. Salam.
Jakarta, 4 Juni 2018.
Penulis : Joko Darmawan.
Potret : Bung Karno sebagai manusia “linuwih”, tak luput dari sorotan sisi spiritualitasnya.
meriwayatkan bahwa sosok yang namanya “Ir. Soekarno” ini, tak luput dari sosok manusia yang 'Linuwih", yakni memiliki kemampuan spiritual dan supranatural yang sangat tinggi. Sebab, dalam salah satu kalimatnya dikatakan “Manusia Indonesia seutuhnya, adalah manusia yang cerdik, pandai, cerdas, berilmu pengetahuan, religius, dan sekaligus mengetahui akar budaya bangsanya sendiri”.
Tokoh kaliber berkelas dunia ini, disebut pula sebagai sosok flamboyant, gagah gesturnya, berpenampilan dendy, humoris dan sangat paham betul dengan persoalan bangsanya sendiri. Barangkali, inilah yang menjadi kekuatan utama “Bung Karno”, sebagai orang nomor satu sekaligus sang Proklamator di Republik ini.
Selain memiliki kemampuan dalam berbagai bidang, Bung Karno juga dikenal sebagai penyambung lidah rakyat. Hal inilah yang menyebabkan ia begitu lekat dengan rakyatnya. Salah satunya yang menakjubkan ialah ketika Bung Karno melakukan pidato orasi di depan masyarakatnya.
Biasanya dalam setiap orasi itu, selalu dikobarkan semangat dan motivasi kepada rakyatnya untuk selalu menjaga NKRI, apapun resikonya. Bung Karno juga punya hoby melakukan kunjungan in conito (secara diam-diam), hal tersebut dilakukan agar bisa berbicara langsung dengan masyarakatnya.
Hanya saja, hal terberat bagi sang Proklamtor ini, adalah manakala dia dijauhi dengan rakyatnya. Sebab, menurut Guruh Soekarno Poetra, hal tersebut merupakan pukulan terberat bagi ayahnya, karena Bung Karno dijuluki sebagai “Penyambung Lidah Rakyat”.
“INDONESIA TEMPO DOELOE” juga meriwayatkan, bahwa bung Karno punya orang kepercayaan namanya “Pak Subuh” (Konon khabarnya generasi penerusnya lantas mendirikan ‘Yayasan Subud” di Jakarta Selatan). Nah, Pak Subuh inilah orang yang menjaga dan merawat berbagai benda pusaka yang dimiliki oleh Bung Karno.
Pak Subuh merupakan salah satu putera terbaik Indonesia dalam bidang khusus untuk merawat benda-benda pusaka, karena sosok ini, begitu tekun, teliti dan telaten jika berurusan dengan benda-benda bertuah sehingga para sejawatnya menyebut sebagai sosok yang “Mandiri dan Mumpuni”.
Atas arahan Bung Karno, benda-benda pusaka miliknya itu, lantas disimpan oleh Pak Subuh di salah satu ruangan istana, tak seorang pun boleh masuk ke ruang khusus tersebut, kecuali dirinya. Oleh Pak Subuh, benda-benda keramat tersebut dirawat dengan sangat cermat, apik dan teliti. Kalau sudah jatuh tempo benda-benda itu, lalu ditirakatkan, misalnya melalui puasa, bahkan sampai menjalani puasa mutih untuk melakoni penjamasan benda-benda tersebut.
Pak Subuh ini dengan senang hati mengerjakannya. Selanjutnya, entah hanya kebetulan atau sugesti, nyatanya Sang Proklamator ini sangat kharismatik, memiliki daya magnet yang luar biasa sehingga sangat disegani oleh berbagai lapisan masyarakatnya.
Adapun kisah-kisah dahsyatnya, manakala terjadi serangkaian pembunuhan di Jalan Cikini, Raya, di Jalan Pegangsaan dan lain-lainnya. Namun anehnya serangkai pembunuhan Bung Karno itu, mengalami kegagalan total, sekalipun pada jarak dekat.
Waktu demi waktu, sayangnya, cerita-cerita mengenai benda-benda pusaka yang pernah dimiliki istana sudah hampir tak terdengar lagi. Bahkan, semenjak Bung Karno lengser hingga wafatnya, benda-benda tersebut tidak diketahui dimana rimbanya. Salam.
Jakarta, 4 Juni 2018.
Penulis : Joko Darmawan.
Potret : Bung Karno sebagai manusia “linuwih”, tak luput dari sorotan sisi spiritualitasnya.

0 Response to "Pusaka Pelindung Para Raja"
Post a Comment