SRI SULTAN HAMENGKUBUWONO X
SRI SULTAN HAMENGKUBUWONO X
Nama kecilnya Bendoro Raden Mas Herjuno Darpito, lahir di Yogyakarta, 2 April 1946. Gelar lainnya, Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Mangkubumi. Di masa remaja sosok ini, memiliki banyak sahabat dari berbagai lapisan masyarakat, sebab sangat aktif dalam berbagai kegiatan organisasi dan sosial kemasyarakatan.
Kesederhanaan dalam bertutur sapa yang menyejukkan plus suka memberi dan berbagi sehingga banyak disukai oleh berbagai kalangan masyarakat. Raden Mas Herjuno Darpito menyelesaikan studinya di Fakultas Hukum Universita Gajahmada, dan ketika dikukuhkan menjadi Adipati Anom gelar yang disandangnya “Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo Hamengku Negara Sudibyo Rajaputra Nalendra ing Mataram”.
Bendoro Raden Mas Herjuno Darpito, naik tahta pada tanggal 7 Maret 1989, dan bergelar “Ngarsa Dalem Sampeyan Dalem ingkang Sinuhun Kanjeng Sultan Hamengku Buwono Senapati Ing Ngalaga Ngabdurrakhman Sayidin Panatagama Kalifatullah Ingkang Jumeneng Kaping Sadasa Ing Ngayogyakarta” atau lebih populer disebut “Sri Sultan Hamengkubuwono X”.
Sesuai tradisi dan mekanisme yang berlaku pada Keistimewaan DIY, maka sejak tanggal 3 Oktober 1988, HB X merangkap sebagai Gubernur DIY. Oleh karena itu, tokoh ini memposisikan dirinya sebagai sosok yang netral dari berbagai kepentingan partai politik manapun. Kedatipun demikian, Sinuhun tetap berusaha menjalin hubungan baik dengan berbagai pihak manapun sehingga tak heran jikalau sosok berpenampilan soft ini memiliki wawasan yang sangat luas pada soal tradisi, budaya, wawasan kebangsaan dan ketahanan nasional di tanah air kita.
Sebagai tokoh yang sangat berpengaruh di negeri ini, HB X acapkali diundang dalam berbagai seminar untuk membeberkan wawasan kebangsaannya. Dalam suatu kesempatan, manakala diundang sebagai nara sumber, dikatakan oleh HB X, bahwa “Wawasan kebangsaan masa depan seharusnya merupakan pandangan proaktif untuk membangun bangsa menuju perwujudan cita-cita bersama sebagai suatu bangsa yang “Mandiri dan Mumpuni”, artinya dalam situasi apapun dapat berdiri sendiri dan tidak tergantung pada orang lain, serta mampu mengembangkan inovasi iptek bangsa sendiri agar memiliki keungulan daya saing yang tangguh di dunia global”.
Karena HB X sangat aktif dalam berbagai kegiatan, terutama dalam mengembangkan seni dan budaya sehingga banyak menerima gelar dari berbagai lembaga maupun perguruan tinggi, salah satu gelar yang diperolehnya, yakni gelar Doktor Kehormatan atau Doktor Honoris Causa dari Institut Seni Indonesia (ISI), Yogyakarta pada tanggal 27 Desember 2011. Gelar tersebut tidak ujug-ujung diperolehnya, sebab sejak tahun 1989, Sinuhun sudah aktif memajukan seni dan budaya, terutama seni pertunjukan tradisional dan kontemporer.
Sinuhun yang ditenggarai penggemar gudeg “Kranggan” ini, begitu gandrung dengan olahan kuliner dari buah nangka muda dicampur bumbu manis dan legit beraroma ketumbar, lengkuas, gula merah, serai dan daun salam dipadu dengan tahu bacem pindang telur, ayam goreng serta sambel krecek.
HB X, juga menyukai gudeg “Manggar”, yakni gudeg yang terbuat dari manggar atau bunga kelapa bukan nangka muda seperti gudeg biasa, hal ini menandakan HB X juga sangat lekat dengan rakyatnya, mirip ayahnya HB IX yang merakyat.
Ada hal yang menarik dan mengesankan serta tak mudah untuk dilupakan, bahkan dapat pujian luar biasa dari masyarakat Yogyakarta, yakni manakala HB X ikut minggir bersama masyarakat lain, ketika rombongan besar Presiden Jokowi lewat di salah satu kota Yogyakarta.
Belakangan nama HB X mencuat menjadi perhatian mass media dan masyarakat, ketika pada tanggal 30 April 2015, membacakan “Sabda Raja” dan “Dhawuh Raja” (perintah raja). Sabda tersebut mengenai perubahan gelar HB X menjadi “Ngarsa Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Sri Sultan Hamengku Bawono Ingkang Jumeneng Kasepuluh Suryaning Mataram Senopati Ing Ngalaga Langgenging Bawono Langgeng Langgenging Tata Panatagama”.
Dhawuh Sinuhun berisi perubahan nama puteri pertama Sri Sultan Hamengkubuwono X, yakni “GKR Pembayun” menjadi “GKR Mangkubumi Hamemayu Hayuning Bawono Langgeng Ing Mataram”. Suatu ungkapan yang sangat dahsyat, bermakna dan mendalam apabila menelisik pada kisah-kisah kedigjayaan trah raja-raja Mataram di tanah Jawa.
Jakarta, 30 Mei 2018.
Penulis : Joko Darmawan.
Nama kecilnya Bendoro Raden Mas Herjuno Darpito, lahir di Yogyakarta, 2 April 1946. Gelar lainnya, Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Mangkubumi. Di masa remaja sosok ini, memiliki banyak sahabat dari berbagai lapisan masyarakat, sebab sangat aktif dalam berbagai kegiatan organisasi dan sosial kemasyarakatan.
Kesederhanaan dalam bertutur sapa yang menyejukkan plus suka memberi dan berbagi sehingga banyak disukai oleh berbagai kalangan masyarakat. Raden Mas Herjuno Darpito menyelesaikan studinya di Fakultas Hukum Universita Gajahmada, dan ketika dikukuhkan menjadi Adipati Anom gelar yang disandangnya “Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo Hamengku Negara Sudibyo Rajaputra Nalendra ing Mataram”.
Bendoro Raden Mas Herjuno Darpito, naik tahta pada tanggal 7 Maret 1989, dan bergelar “Ngarsa Dalem Sampeyan Dalem ingkang Sinuhun Kanjeng Sultan Hamengku Buwono Senapati Ing Ngalaga Ngabdurrakhman Sayidin Panatagama Kalifatullah Ingkang Jumeneng Kaping Sadasa Ing Ngayogyakarta” atau lebih populer disebut “Sri Sultan Hamengkubuwono X”.
Sesuai tradisi dan mekanisme yang berlaku pada Keistimewaan DIY, maka sejak tanggal 3 Oktober 1988, HB X merangkap sebagai Gubernur DIY. Oleh karena itu, tokoh ini memposisikan dirinya sebagai sosok yang netral dari berbagai kepentingan partai politik manapun. Kedatipun demikian, Sinuhun tetap berusaha menjalin hubungan baik dengan berbagai pihak manapun sehingga tak heran jikalau sosok berpenampilan soft ini memiliki wawasan yang sangat luas pada soal tradisi, budaya, wawasan kebangsaan dan ketahanan nasional di tanah air kita.
Sebagai tokoh yang sangat berpengaruh di negeri ini, HB X acapkali diundang dalam berbagai seminar untuk membeberkan wawasan kebangsaannya. Dalam suatu kesempatan, manakala diundang sebagai nara sumber, dikatakan oleh HB X, bahwa “Wawasan kebangsaan masa depan seharusnya merupakan pandangan proaktif untuk membangun bangsa menuju perwujudan cita-cita bersama sebagai suatu bangsa yang “Mandiri dan Mumpuni”, artinya dalam situasi apapun dapat berdiri sendiri dan tidak tergantung pada orang lain, serta mampu mengembangkan inovasi iptek bangsa sendiri agar memiliki keungulan daya saing yang tangguh di dunia global”.
Karena HB X sangat aktif dalam berbagai kegiatan, terutama dalam mengembangkan seni dan budaya sehingga banyak menerima gelar dari berbagai lembaga maupun perguruan tinggi, salah satu gelar yang diperolehnya, yakni gelar Doktor Kehormatan atau Doktor Honoris Causa dari Institut Seni Indonesia (ISI), Yogyakarta pada tanggal 27 Desember 2011. Gelar tersebut tidak ujug-ujung diperolehnya, sebab sejak tahun 1989, Sinuhun sudah aktif memajukan seni dan budaya, terutama seni pertunjukan tradisional dan kontemporer.
Sinuhun yang ditenggarai penggemar gudeg “Kranggan” ini, begitu gandrung dengan olahan kuliner dari buah nangka muda dicampur bumbu manis dan legit beraroma ketumbar, lengkuas, gula merah, serai dan daun salam dipadu dengan tahu bacem pindang telur, ayam goreng serta sambel krecek.
HB X, juga menyukai gudeg “Manggar”, yakni gudeg yang terbuat dari manggar atau bunga kelapa bukan nangka muda seperti gudeg biasa, hal ini menandakan HB X juga sangat lekat dengan rakyatnya, mirip ayahnya HB IX yang merakyat.
Ada hal yang menarik dan mengesankan serta tak mudah untuk dilupakan, bahkan dapat pujian luar biasa dari masyarakat Yogyakarta, yakni manakala HB X ikut minggir bersama masyarakat lain, ketika rombongan besar Presiden Jokowi lewat di salah satu kota Yogyakarta.
Belakangan nama HB X mencuat menjadi perhatian mass media dan masyarakat, ketika pada tanggal 30 April 2015, membacakan “Sabda Raja” dan “Dhawuh Raja” (perintah raja). Sabda tersebut mengenai perubahan gelar HB X menjadi “Ngarsa Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Sri Sultan Hamengku Bawono Ingkang Jumeneng Kasepuluh Suryaning Mataram Senopati Ing Ngalaga Langgenging Bawono Langgeng Langgenging Tata Panatagama”.
Dhawuh Sinuhun berisi perubahan nama puteri pertama Sri Sultan Hamengkubuwono X, yakni “GKR Pembayun” menjadi “GKR Mangkubumi Hamemayu Hayuning Bawono Langgeng Ing Mataram”. Suatu ungkapan yang sangat dahsyat, bermakna dan mendalam apabila menelisik pada kisah-kisah kedigjayaan trah raja-raja Mataram di tanah Jawa.
Jakarta, 30 Mei 2018.
Penulis : Joko Darmawan.
0 Response to "SRI SULTAN HAMENGKUBUWONO X"
Post a Comment