-->

Kapitan Patimura

KAPITAN PATTIMURA


Kapitan Patimura


Masa kanak-kanak Thomas yang lahir dari keluarga Frans MatuIessia dan Fransma Silahoi tidak diketahui dengan pasti. Thomas hanya mempunyai seorang adik yang bernama Yohanis. la seorang anak biasa di antara ratusan anak rakyat Haria dan Porto. Dia seorang anak Lease senasib dengan beribu-ribu anak dari ketiga pulau itu yang hidup dalam kekurangan karena monopoli perdagangan Belanda dan kerja rodi.
  Pemuda Thomas Matulessia itu muncul ketika pada tahun 1816 para raja dan patih dari Saparua dan Nusalaut diundang ke Benteng Duurstede untuk menghadiri kekuasaan Inggris kepada Belanda. Benteng itu kemudian direbut dengan menewaskan Residen Van den Berg.
  Selama tujuh tahun, rakyat Maluku di bawah pemerintah Inggris yang berbeda dengan sistem pemerintahan Belanda. Dengan sistem liberal, Iewat pajak tanah (Iandrente) dan sistem mata uang, rakyat tidak mengalami tekanan monopoli, kerja rodi, pemindahan penduduk, dan pelayaran Hongi (Hongi Tochten). Inggris menerapkan sistern “pemerintahan tidak langsung” (indirect rule) di Maluku.
  Pemindahan kekuasaan itu juga disertai dengan pengumuman Residen Belanda Kruipenning bahwa peraturan-peraturan yang ditetapkan oleh Inggris ditiadakan. Artinya, mereka harus menanggung lagi tekanan pemerintah Kompeni Belanda. Di samping itu, Belanda dalam praktek di lapangan tidak mengindahkan ketentuan-ketentuan dengan Inggris yang termuat dalam Traktat London. Misalnya, dalam artikel 11 Traktat itu yang menegaskan agar Residen Inggris di Ambon merundingkan pemindahan korps Ambon dengan Gubernur. Dalam surat perjanjian serdadu Ambon yang dibuat dengan Inggris dicantumkan dengan jelas bahwa jika pemerintahan Inggris berakhir di Maluku, serdadu-serdadu harus dibebaskan. Artinya, mereka bebas untuk memilih untuk memasuki dinas militer pemerintah baru atau tidak. Tetapi, dalam praktek pemindahan itu dipaksakan. Thomas Matulessia dan kawankawannya tidak mau dipindahkan begitu saja seperti memindahkan barang.
Saparua adalah pulau terpadat penduduknya, kira-kira 12.000 orang pada dasawarsa awal abad ke-19 dengan tanah paling subur bagi tanaman
 cengkih.
  Kebencian rakyat Saparua dan Nusalaut makin meningkat karena residen dan pegawai-pegawainya hanya menghisap kekayaan alam di kawasan itu. Kebencian rakyat itu memuncak menjadi perlawanan rakyat dengan merebut Beriteng Duurstede pada tanggal 15 Mei 1817.
  Setelah penyerangan itu, para raja, patih, dan pemimpin-pemimpin rakyat berkumpul dan sepakat untuk mengumumkan apa yang disebut sebagai Proklamasi Haria yang ditetapkan di Saparua pada tanggal 29 Mei 1817. Isi proklamasi itu pada intinya membeberkan berbagai situasi ketidakadilan pemerintah Belanda Ketidakadilan itu nampak dalam pemaksaan pemudapemuda untuk menjadi tentara dan dikirim ke Batavia. Pekerjaan berat untuk Gubernemen yang menyita banyak waktu tidak mendapatkan imbalan minimal untuk hidup. Pembuatan garam oleh rakyat untuk pemerintah tidak dibayar. Rakyat harus menyerahkan ikan, daging ayam, rusa, babi hutan, dan minyak goreng dengan harga rendah, bahkan sering tidak dibayar tetapi masih harus kerja rodi untuk pemerintah.
  Keadaan itu menjadi dasar hukum bagi rakyat untuk melakukan perang kemerdekaan yang dimulai pada tanggal 15 Mei 1817. Perang itu merupakan perang rakyat menentang kesewenang-wenangan dan kelaliman Belanda Proklamasi juga memberi pengakuan secara hukum atas kepemimpinan Thomas Matulessia sebagai pemimpin dan panglima perang.
  Setelah proklamasi itu, Thomas Matulessia yang kemudian lebih dikenal sebagai Kapitan Pattimura mulai mengkoordinasikan kekuatan rakyat. Pertama-tama adalah mempertahankan Benteng Duurstede. Mayor Beetjes yang berusaha merebut benteng itu kembali berhasil dibinasakan beserta pasukannya, termasuk di dalamnya Letnan ll E.S. de Haas. Konon, kerangka-kerangka jenazah pasukan Belanda itu dimakamkan kembali di Pantai Waisisil pada tahun 1884 dan di atasnya didirikan sebuah tugu. Di Palu, barisan rakyat dapat merebut kembali Benteng Hoorn. Seluruh pasukan Belanda di dalamnya dapat dibinasakan.
  Belanda untuk mengimbangi perlawanan gigih dari rakyat ini adalah memecah belah para pemimpinnya. Tipu muslihat Belanda berhasil, membujuk Patih Akoon, salah satu kepala negeri di Nusalaut. Akoon dan Tuwanakotta membocorkan keadaan para pejuang di Nusalaut dan dalam Benteng Duurstede. Pembocoran rahasia pertahanan itu sangat fatal bagi perjuangan Kapitan Pattimura.
  Usaha para raja di Haruku untuk merebut Benteng Zeelandia berhasil digagalkan Belanda. Duurstede dapat direbut kembali dan perlawanan rakyat sedikit demi sedikit dapat dipatahkan. Bahkan, Pattimura berhasil ditangkap ketika kapitan itu sedang berada di Siri Sori. Ia kemudian diangkut ke Ambon dengan pengawalan ketat. Berbagai kompromi dan kerjasama ditawarkan oleh Belanda tetapi selalu ditolak Pattimura. Pengadilan kolonial menjatuhinya hukuman gantung sampai mati. Hukuman itu dijalani bersama dengan kawan-kawannya yang setia dengan gagah berani pada tanggal 16 Desember 1817 di Ambon.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Kapitan Patimura"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel