-->

Kegemaran Pak Harto

mengisahkan semasa hidupnya Presiden Soeharto gemar mengoleksi benda-benda-benda pusaka, diantaranya Tombak Kyai Singo Lodra, Mustika Merah Delima, Keris Tilam Upih, Batu Aji Ki Alip Cukur, Bunga Wijaya Kusuma, Batu Aji Badar Besi, Kolbuntet, Pulasani, dan Wesi Kuning.

Pak Harto yang dikenal sebagai “The Smiling General”, lahir tanggal 8 Juni 1921 di Kemusuk, Argomulyo, Sedayu, Bantul dan meninggal pada tanggal 27 Januari 2008, juga menyukai budaya dan dunia kebhatinan. Oleh sebab itu, tak heran jika sosok ini ditenggarai sebagai tokoh yang paham banget soal akar budaya bangsanya.

Kedatipun demikian, dirinya tak merasa hebat dari yang lain, oleh karena itulah Pak Harto, acapkali melakukan perbincangan dengan para ahli dan jawara spiritual dari berbagai daerah maupun para sejawatnya di TNI maupun Polri.

Konon khabarnya, diantara tokoh TNI yang lekat dengan Bapak Pembangunan itu, ialah “Soedjono Umardhani”, dan “Sampoerno”, keduanya berpangkat Mayor Jenderal. Nah, dari para sejawat inilah Pak Harto banyak mendapat masukan soal tuah, tulah, magis, spiritual, kesakralan, sihir, gendam dan lainnya, yang terkait dengan nilai-nilai kepemimpinan bangsa Indonesia, walaupun Pak Harto sendiri sangat paham tentang arti dan makna peninggalan budaya yang masih mengakar dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

Terbukti di era kepemimpinan, Presiden kedua RI ini, begitu kuatnya nuansa kewibawaan yang dimiliki oleh Pak Harto. Banyak bawahannya yang merasa segan terhadap Pak Harto, misalnya segala perintahnya dengan cepat direspon dan ditindak-lanjuti dengan pelaksanaan dilapangan oleh para bawahannya. Hal tersebut, karena Pak Harto sering mengecek di lapangan, baik siang maupun malam hari dengan menyamar sebagai rakyat biasa, sehingga para pembantunya jika melakukan kebohongan dengan sendirinya akan ketahuan.

Sosok berpenampilan murah senyum ini, melalui Repelitanya telah banyak yang dihasilkan di berbagai bidang, seperti Swasembada beras, pembangunan jalan dan gedung-2 megah, di tanah air, lalu mengendalikan perpolitikan di Indonesia yang serba carut marut yang kemudian dirampingkan menjadi “Trigel Power”, yakni PDI Perjuangan, Golkar dan PPP.

Adapun salah satu acuan kepemimpinannya adalah “Hasta Brata”, yang diriwayatkan dalam kisah “Mahkuta Rama”, isinya sebagai berikut : “Seorang Pemimpin haruslah memiliki watak”, seperti” :

1.watak Bhumi, yang mempunyai sifat murah hati, sekalipun dicangkul, di godam pake paku bumi dan dikeruk oleh mesin delco, namun tak pernah mengeluh, bahkan selalu memberikan hasil kepada siapapun yang mengolah dan memeliharanya dengan tekun. Seorang pemimpin hendaknya berwatak murah hati, suka beramal dan senantiasa berusaha untuk tidak mengecewakan kepercayaan rakyatnya.

2.️Watak Maruta (Angin), yang selalu berada di segala tempat, tanpa membedakan dataran tinggi atau rendah, daerah kota ataupun pedesaan. Seorang pemimpin hendaknya selalu dekat denga rakyatnya, tanpa membedakan derajat dan martabat sehingga secara langsung mengetahui keadaan dan keinginan rakyatnya.

3️.Watak Samudera (Lautan), laut betapapun luasnya, senantiasa mempunyai permukaan yang rata dan bersifat sejuk menyegarkan. Seorang pemimpin hendaknya menempatkan semua rakyatnya pada derajat dan martabat yang sama dihatinya. Dengan demikian ia dapat berlaku adil, bijaksana dan penuh kasih sayang terhadap rakyatnya.

4️.Watak Chandra (Bulan), yakni keberadaan bulan senantiasa menerangi kegelapan malam dan menumbuhkan harapan yang indah. Seorang pemimpin hendaknya sanggup memberikan dorongan dan mampu membangkitkan semangat rakyatnya, ketika rakyat sedang menderita kesulitan.

5.️watak Surya (Matahari), yang merupakan sumber dari segala asal kehidupan yang membuat semua makhluk tumbuh dan berkembang. Seorang pemimpin hendaknya mampu mendorong dan menumbuhkan daya hidup rakyatnya untuk membangun Negara dengan memberikan bekal lahir dan bathin untuk dapat berkaya.

6️.Watak Angkasa (Langit), yang mempunyai keluasan tak terbatas hingga mampu menampung apa saja yang datang padanya. Seorang pemimpin hendaknya mempunyai keluasan bathin dan kemampuan mengendalikan diri yang kuat hingga dengan sabar mampu menampung pendapat rakyatnya yang bermacam-macam.

7️.Watak Dahana (Api), yang mempunyai kemampuan untuk membakar habis dan menghancur-leburkan segala sesuatu yang bersentuhan dengannya. Seorang pemimpin hendaknya berwibawa dan berani menegakkan hukum dan kebenaran secara tegas, tuntas tanpa pandang bulu.

8️.Watak Kartika (Bintang), yang senantiasa mempunyai tempat yang tetap di langit hingga dapat menjadi pedoman arah (kompas). Seorang pemimpin hendaknya menjadi tauladan rakyatnya, tidak ragu menjalankan keputusan yang disepakati, serta tidak mudah terpengaruh oleh pihak yang akan menyesatkan.


Jakarta, 6 Juni 2018.
Penulis : Joko Darmawan.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Kegemaran Pak Harto "

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel