PENGAKUAN GERWANI
Gerakan Wanita Indonesia atau Gerwani adalah organisasi wanita yang aktif di Indonesia pada tahun 1950-an dan 1960-an. Organisasi terlarang ini didirikan pada tahun 1950, dan memiliki lebih dari 650.000 anggota pada tahun 1957.
Gerwani Adalah Komunitas terlarang yang berkecipung di PKI.
PENGAKUAN GERWANI
Nyonya Mitzi F. Tendean, kakak kandung Lettu Pierre Andreas Tendean, pada tahun 1966-1967 mencari tahu apa yang terjadi pada adiknya. Pierre Tendean, adalah ajudan Jenderal Nasution, yang pada malam naas itu menjadi korban penculikan dan pembunuhan.
Nyonya Mitzi mengumpulkan berbagai dokumentasi pers, fofo, tulisan arsip proses verbal para pelaku di markas CPM di Gambir. Dia mengikuti semua persidangan mahmil dan mahmilub, serta melakukan wawancara singkat dengan 14 anggota Gerwani yang dianggap terlibat penganiayaan seksual terhadap adiknya.
Berikut cuplikan catatan hasil pertemuan Nyonya Mitzi dengan para anggota Gerwani yang dipenjarakan di Bukitduri itu.
01. ATIKAH "DJAMILAH"
Didalam proses verbal disebutkan datang ke Lubang Buaya pada 28 September hingga 2 Oktober 1965. Ia anggota Pemuda Rakyat Tanjung Priok, dengan pelatih Soejono. Ketika ditemui, Djamilah, yang menurut teman-temannya memimpin kelompok kecil Gerwani yang menganiaya Pierre Tendean, tak mau bicara dan mengatakan 'tak tahu' berkali-kali. Sorot matanya tajam dan menusuk tak dapat saya lupakan. Sosok Djamilah bertubuh tegap, kulit sawo matang, wajah type Timur Tengah, dengan hidung mancung.
02. ENI binti MADAH
Adalah WTS. Menurut proses verbal ia ditangkap di Tangerang pada 30 Oktober 1965. Dia tiba di Lubang Buaya pada 30 September 1965, pukul 22.00. Keesokan paginya, ia diperintahkan menari-nari setengah telanjang mengelilingi ruang piket sambil bernyanyi dan melukai tawanan. Dia mengetahui di dalam sumur sudah ada dua orang. Ia mengaku ikut memasukkan Sutoyo, Suprapto, Parman dan Pierre. Sebelumnya, bersama Aisah dan Tati ia menari-nari mengelilingi Pierre. Dia melihat dengan kepala sendiri penganiayaan dan pemotongan alat vital Pierre oleh Djamilah. Eni mengaku juga disuruh mengiris-iris Jenderal Parman, Pierre dan Suprapto. Djamilah mencungkil mata Parman, Tati menusuk punggungnya. Semua korban diperlakukan begitu dalam keadaan masih hidup.
03. DARSIJEM
Mengaku tiba di Lubang Buaya pada pagi hari 30 September 1965. Keesokan harinya, ia ikut melakukan penganiayaan dan penembakan terhadap Suprapto. Pada saat itu, ia melihat dua orang yang lain sudah mati. Darsijem mengaku melihat korban yang berjaket coklat (Pierre) ditembak oleh Cakra, AURI dan Pemuda Rakyat. Sesudah mati Pierre diseret orang berbaju hijau ke dalam sumur. Menurut Darsijem, Djamilah adalah pemimpin penganiayaan itu.
04. HENNI
Mengaku anak buah Sukiman, anggota Pemuda Rakyat. Ia melihat dua tawanan datang. Dua berpakaian kimono dan sarung, satu bercelana pendek, satu lagi hanya memakai sarung. Yang cuma memakai sarung diiris-iris. Henni turut mengiris tangannya dan memberinya jeruk nipis. Henni juga menusuk perut Suprapto, Djamilah lalu menembak Suprapto. Bersama dua orang kawannya Henni mengaku mencungkil mata dua tawanan dan membungkus dengan daun pisang.
05. ENDAH
Datang ke Lubang Buaya pada tanggal 30 September pagi. Ia melihat Pierre, Parman, dan Suprapto dibawa ke lokasi. Semua dikawal pasukan Cakrabirawa. Suprapto dibawa ke balai pengobatan, ditanyai oleh Cakra. Ia mendengar bunyi pertanyaannya: "Mengapa bapak, seorang Jenderal tak memikirkan rakyat? Beras mahal dan rakyat kelaparan, apa tindakan bapak?". Dia mendengar Suprapto menjawab: "Saya juga memikirkan, tapi bagaimana?", kemudian terdengar Suprapto dipukuli beramai-ramai dengan popor senapan.
06. SAIJAH
Umur sekitar 16 tahun, mengaku bekerja didapur. Lalu, ia dipanggil oleh orang berbaju loreng. Katanya disuruh melihat jenazah-jenazah. Tapi, kemudian buru-buru berkata tidak tahu dan tak melihat apa-apa. Catatan; kesannya memutarbalikkan kata-kata, penuh kepura-puraan. Perlu periksa ulang.
07. ANI
Mengaku melihat truk datang, menurunkan seorang berpakaian kimono, seorang memakai sarung dengan mata tertutup dan tangan terikat kain merah. Seorang lagi berpakaian hitam (mungkin coklat, maksudnya) dengan tangan terikat. Kemudian pada pukul 06.00 pagi, ia melihat tawanan yang mengenakan kimono ditembak di belakang rumah. Dia mendengar seorang wanita (Djamilah atau Aisah) berkata "ini darah kabir" lalu melihat muka tawanan yang mengenakan sarung penuh dengan darah.
08. TARJU
Pada sekitar pukul 07.00 tanggal 1 Oktober 1965 melihat tawanan yang mengenakan kimono. Tangannya terikat dibelakang. Ia juga melihat tawanan berbaju coklat ditendang-tendang orang berbaju hijau dan loreng. Tarju juga melihat Suprapto dalam kondisi berdarah-darah mukanya. Ia melihat Djamilah yang tangannya berlumuran darah berkata "inilah darah kabir". Dan seorang laki-laki berkata "Orang-orang yang sudah mati ini adalah orang-orang kabir (kapitalis birokrat)".
09. SARININGSIH
Alias Ny. Hardjono istri seorang guru penghuni rumah di sebelah sumur Lubang Buaya. Suaminya adalah anggota Pemuda Rakyat. Sariningsih mengatakan, di Lubang Buaya telah dilakukan tujuh kali pelatihan oleh anggota-anggota AURI. Ia sendiri ikut dalam Angkatan ke 5. Menurutnya, pasukan Cakrabirawa datang ke Lubang Buaya pada tanggal 30 September 1965 pukul 14.00. Pagi hari 1 Oktober 1965, ia mengaku melihat tawanan berbaju putih yang tangannya terikat ditanyai oleh Imam dan Kasman. Sariningsih juga melihat tawanan yang berbaju coklat dengan tangan terikat dan muka berlumuran darah. Ia takut melihatnya. Catatan: banyak hal-hal yang tak mau dikatakan. Sukar berfikir.
10. SUKARNI
Janda tanpa anak berusia 42 tahun, anggota Gerwani. Pernah mendapat latihan di Cipete, Jakarta, antara lain bongkar pasang senjata, tapi belum pernah menembak. Pada 30 September 1965 diajak kawan-kawan ke Lubang Buaya untuk arak-arakan. Sampai di Lubang Buaya ia mendapat tugas di dapur. Ia tidur di kemah. Subuh 1 Oktober 1965, ia sama sekali tidak mengetahui suasana. Ia pergi ke sungai, mendengar letusan senjata, lalu pergi bersembunyi di dapur. Ketika suara letusan makin kerap terdengar, ia pergi ke kemah dan tak keluar hingga 2 Oktober 1965. Catatan: pandai memutarbalikkan fakta. Amat disangsikan keterangannya mengenai latihannya di Cipete.
11. CICIH binti HADIMI
Anggota Gerwani, seorang buruh pabrik tepung. Bersama kawan-kawannya pergi je Lubang Buaya karena ada panggilan dari ketua RK yang juga anggota Pemuda Rakyat, bahwa akan ditempatkan dan diadakan sukarelawan di Lubang Buaya. Pada 1 Oktober 1965 pagi-pagi ia melihat seorang mengenakan sarung sudah menjadi mayat. Ia tidak melihat kejadian-kejadian lain karena bertugas di dapur. Ia mengaku takut mendengar suara tembakan. Ia merasa menyesal memilih Gerwani.
12. MARSIJEM
Suaminya pensiunan veteran. Tanggal 29 September 1965 dipanggil Sulami ke DPP Gerwani untuk menjalani tugas atas permintaan AURI. Bersama sepuluh orang yang lain, pukul 19.00 diangkut dengan truk ke Lubang Buaya. Diturunkan di kebun karet. Disana ia melihat banyak orang berseragam hijau. Oleh Sulami, mereka dibawa ke sebuah rumah gedek, diserahkan ke seorang wanita bagian penjahitan. Mereka disuruh menjahit bendera-bendera kecil hingga pukul 22.00. Tanggal 30 September, mereka bangun pagi 07.00 dan melihat tentara berbaju loreng, baret merah, menyandang senjata. Tanggal 1 Oktober pagi, ia dibangunkan oleh wanita Pemuda Rakyat berseragam hijau. Wanita itu berkata "Bangun, bangun, Pak Prapto sudah kepegang". Ia lalu keluar melihat Suprapto yang berbaju piyama duduk di kursi di ruang P3K dan dijaga 5 orang berbaju hijau. Tangannya diikat ke depan dengan kain. Marsijem lalu meninggalkan ruangan itu, kemudian kembali ke tempat menjahit. Dari situ ia mendengar orang-orang (laki-laki dan wanita) bernyanyi-nyanyi. Setelah itu, ia mendengar tiga kali tembakan dan melihat jenazah diangkut pakai tandu melewati tempatnya. Oleh Pemuda Rakyat dikatakan itu adalah Suprapto. Setengah jam kemudian, ada lagi jenazah diangkut melewati tempatnya. Orang-orang mengatakan itu adalah Parman. Yang mengangkutnya adalah orang-orang berbaju hijau. Pada pukul 11.00 mereka diantar ke Jakarta diangkut dengan truk.
13. WASIRAH
Adalah istri Sumadi, seorang guru SD yang juga kerja di NV Mantrusi. Ia tak mau bicara, cuma mengatakan pemeriksaan pertama terlalu berat. Terpaksa ia mengaku dalam proses verbal karena takut.
14. DEDEH
Usia 26 tahun, bekerja di PKD Djaya. Pada 30 September 1965 disuruh berkumpul di DPP Gerwani. Kira-kira pukul 16.00-17.00 diangkut ke Lubang Buaya. Di sana diterima seorang kapten AURI, lalu diajak ke tempat menjahit oleh Ibu Hardjo, pimpinan bagian jahit. Ia kebagian tugas menjahit bendera. Pada 1 Oktober 1965, ia bangun pada pukul 06.30, mendengar cerita dari Eni dan para PR bahwa Jenderal Yani sudah dibunuh dirumahnya. Di sekitarnya terlihat Cakrabirawa berbaret merah dan PR berbaju loreng. Ia juga mendengar dari nereka bahwa ada Jenderal-Jenderal yang lain ditembak di situ. Dedeh menanyakan, mengapa mereka dibunuh, dijawab oleh para Cakra "Para Jenderal itu tidak memperhatikan bawahannya, dia hanya mementingkan dirinya sendiri". Dari orang-orang disekitarnya, Dedeh mendengar bahwa Jenderal-Jenderal itu dimasukkan ke dalam sumur.
"Setelah melakukan wawancara kecil itu, saya tak lagi melanjutkan penyelidikan. Saya simpan catatan otentik itu sebagai saksi sejarah. Bagi saya tak ada lagi yang gelap, semua sudah jelas", kata kakak kandung Pierre Tendean itu.
Sumber: Gerakan 30 September. Antara Fakta dan Rekayasa.

0 Response to "PENGAKUAN GERWANI"
Post a Comment