-->

Paradigma Sosiologi



Teori dalam sosiologi tidak berdiri sendiri, ia merupakan satu kesatuan yang terdiri dari beberapa komponen paradigma, yaitu subyect matter, metode, dan contoh baku untuk penelitian. Ketiga komponen itu merupakan acuan utama yang menempatkan pola berpikir paradigmatik. Dengan demikian paradigma dinyatakan sebagai intelektual comitmen yang menjadi pokok persoalan yang seharusnya dipelajari. Konsep paradigma pertama kali dilontarkan oleh Thomas Khan dalam buku The Structure of Scientific Revolution (1962, 1970) yang sangat besar manfaatnya bagi perkembangan ilmu pengetahuan termasuk sosiologi. Secara singkat paradigma merupakan suatu gambaran fundamental mengenai pokok permasalahan dalam satu ilmu pengetahuan. Jadi, paradigma membantu memberikan definisi tentang apa yang harus dipelajari, pertanyaan apa dan bagaimana yang harus dikemukakan, dan peraturan apa yang harus dipatuhi dalam mengintepretasi jawaban yang diperoleh.
Kemudian timbul pertanyaan, mengapa timbul bermacam paradigma (fakta sosial, definisi sosial, dan perilaku sosial) dalam sosiologi? Ritzer (2003:8) menjelaskan dalam bukunya A Multiple Paradigm Science disebabkan oleh tiga hal yaitu pertama karena pandangan filsafat yang mendasari pemikiran para ilmuan, kedua sebagai konsekuensi logis dari pandangan filsafat yang berbeda, ketiga metode yang digunakan untuk memahami substansi ilmu itu juga berbeda. Nah, dari perbedaan itu menyebabkan sosiologi mengalami persaingan atau pergulatan pemikiran dari ilmuan sosiologi yang terkandung dalam eksemplar, teori, metode, dan instrumen yang ada di dalamnya. Para ahli ilmu sosiologi mencoba menggolong-golongkan sosiologi ke dalam paradigma-paradigma. Diantaranya yaitu: Pertama, George Ritzer dengan paradigma fakta sosial, paradigma definisi sosial, dan paradigma perilaku sosial. Kedua, Robert Friedrichs dengan paradigma sistem atau paradigma fungsional, dan paradigma konflik. Ketiga, S.N. Eisentandt dan M. Curelaru dengan paradigma diskret, paradigma sistem tertutup, dan paradigma sistem terbuka. Keempat, Charles Lemert dengan paradigma leksikal, paradigma sematik, dan paradigma sintaksis.
Dari beberapa karya ahli sosiologi yang mencoba menggolongkan sosiologi ke dalam paradigma, karta Ritzer-lah yang mampu memberikan analisis yang sistematis dengan memadukan dengan baik antara pokok persoalan, eksemplar, teori dan metode.
1.      Paradigma Fakta Sosial yang memahami bahwa manusia tunduk pada fakta sosial yang bersifat obyektif dan memaksa individu yang berada diluar lingkungannya. Fakta sosial terdiri atas pranata sosial dan institusi atau struktur sosial. Sedangkan teori yang dibangun dalam paradigma ini antara lain teori fungsionalisme struktural, teori konflik, teori sistem, dan teori sosiologi makro. Para pengikut paradigma fakta sosial suka menggunakan metode kuesioner-wawancara dan komparatif-historis dan Emile Durkhem adalah orang yang mewakili paradigma fakta sosial.
2.      Paradigma Definisi Sosial yang menekankan pada hakekat atau substansi dari kenyataan sosial yang bersifat subyektif dan individual yang dipengaruhi dari dalam. Dalam definisi sosial terdapat dua konsep dasar yaitu tindakan sosial yang penuh arti, dan penafsiran&pemahaman. Ciri pokok dalam paradigma ini adalah tindakan manusia, tindakan nyata, tindakan positif, tindakan perintah, dan tindakan terarah. Teori paradigma ini yaitu teori tindakan, teori interaksionisme simbolik, teori fenomenologi, etnomenologi, dan teori eksistensialisme. Sedangkan inti dari teori dalam paradigma definisi sosial adalah tindakan sosial yang merupakan proses dimana aktor terlibat dalam pengambilan keputusan subyektif tentang sarana dan cara untuk mencapai tujuan tertentu yang telah dipilih dalam dirinya berupa kemauan bebas. Para pengikut paradigma ini cenderung lebih suka menggunakan metode observasi dan karya Weber tentang tindakan sosial merupakan pemersatu dalam paradigma ini.
3.      Paradigma perilaku sosial yang memperhatikan perilaku reflek dari individu. Paradigma ini mempunyai dua pendekatan teoritis yaitu teori perilaku yang berdekatan dengan psikologi behavioral murni, dan teori pertukaran. Paradigma ini lebih menekankan pada pendekatan obyektif empiris terhadap kenyataan sosial. Lalu eksperimen menjadi metode khas dari paradigma ini. Selanjutnya, hasil karya psikologi B.F. Skinner dalam bukunya Science and Human Behavior menjadi exemplar dalam penggunaan paradigma ini.
Jadi di sini dapat ditarik kesimpulan bahwa sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang berparadigma ganda. Paradigma dalam sosiologi yang ada sekarang ini tidak hanya berakar pada sosiologi itu sendiri tetapi juga dari psikologi. Malah untuk sosiologi masa kini, sosiologi klasik merupakan exemplar yang tetap relevan. Inti dari paradigma adalah gambaran fundamental mengenai pokok permasalahan studinya. Teori dan metode hanya merupakan konsekuensi logika yang harus dipenuhi. Kemudian pembagian tiga paradigma oleh G. Ritzer menyebabkan ketiganya seolah-olah kontras perbedaannya sehingga menjadi polemik yang saling bertentangan. Namun ketiganya ada kemungkinan untuk dicari jalan keluarnya karena pada dasarnya sifat pokok permasalahan yang dipersoalkan sama yaitu berawal dari kenyataan sosial. Bedanya adalah pada tingkat kenyataan sosial yang mereka ambil untuk menghasilkan teori yang otonom.
George Ritzer menyatakan bahwa sosiologi merupakan ilmu yang memiliki banyak paradigma. Salah satu paradigma dikenal dalam sosiologi adalah paradigma keteraturan (order paradigm). Pemikiran Thomas Hobbes, Rousseau, dan plato dapat menjadi contoh bentuk-bentuk ideal type pemikiran klasik yang masuk dalam paradigma keteraturan. Dalam paradigma keteraturan dikenal beberapa asumsi dasar yang mendasari, yaitu:
a.       Sifat dasar manusia (human nature), manusia pada dasarnya hidup individualistic daripada sebagai makhluk sosial, sehingga cenderung kompetitif daripada kooperatif. Keteraturan kehidupan sosial dimungkinkan karena adanya kekuatan akal sehat yang ada pada manusia.
b.      Sifat dasar masyarakat (the nature of society), sifat alamiah masyarakat tercermin pada institusi yang saling bergantung dan terdapatnya sistem norma yang menjadi penghalang perilaku pribadi. Dengan adanya keteraturan sosial yang absah dan secara alamiah terdapat mekanisme adaptasi dalam sistem sosial, perubahan sosial diasumsikan terjadi melalui proses evolusi alamiah.
c.       Sifat dasar sains (the nature of science), Nah, di sini terdapat keteraturan yang sistematik di dalam kehidupan sosial sebagaimana yang terjadi pada alam. Ilmu pengetahuan sosial positive mengarahkan penelitian untuk mencari kepastian hubungan antar berbagai variabel sosial. Hubungan antar variabel harus dinyatakan dalam bahasa yang jelas dengan menyertakan terminologi yang secara jelas telah didefinisikan.
Lalu hubungan antara teori dengan paradigma dalam sosiologi itu sendiri adalah teori merupakan acuan umum dan acuan pokok dalam setiap bahasan masalah-masalah sosial. Teori akan dilihat sebagai tiang penyangga dari setiap permasalahan yang dihadapi oleh ilmuwan sosial. Sedangkan paradigma merupakan sudut pandang komunitas ilmuwan mengenai suatu masalah berdasarkan pembahamannya. Teori lebih bersifat umum dan besaran yang abstrak, sedangkan paradigma merupakan suatu tinjauan dengan berlatar belakang kepada interese tertentu.


Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Paradigma Sosiologi"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel