-->

Keterkaitan Sosial Budaya dalam Upaya Kesehatan di Indonesia


7 unsur kebudayaan
Kebudayaan adalah modal dasar masyarakat untuk mengantisipasi dan mengadaptasi kebutuhan. C. Geertz (1973:89) menekankan: “The culture concept…, it denotes an historically transmitted pattern of meanings embodied in simbols: a system of inherited conceptions expressed in symbolic forms by means of which men: communicate, perpetuate, and develop their knowledge about and attitudes toward life”. Berarti kebudayaan adalah pola pengertian atau makna menyeluruh dalam simbol-simbol yang ditransmisikan secara historis, sistem konsepsi-konsepsi yang diwariskan: dalam bentuk- bentuk simbolis yang dengan cara tersebut manusia berkomunikasi, melestarikan dan mengembangkan pengetahuan dan sikap mereka terhadap kehidupan. Simbolik yang dimaksud Geertz adalah suatu cara memberi bentuk konseptual objektif terhadap kenyataan sosial dan kejiwaan warganya.
Dapat pula dihubungkan dengan kebudayaan universal yang dikemukakan sistematis oleh Tylor, 1874 dan Koentjaraningrat, 1979. Konsep para ahli antropologi tersebut membentangkan idea, aktivitas sosial serta materi kebudayaan yang jadi pelapisan lini bagi tujuh unsur kebudayaan yang satu sama lainnya pengaruh-mempengaruhi yaitu :
  1. Agama.
  2. Ilmu pengetahuan.
  3. Teknologi.
  4. Ekonomi.
  5. Organisasi sosial.
  6. Bahasa dan komunikasi, dan
  7. Kesenian (Suparlan,1988: 5).
Suparlan (1988:6) menekankan pentingnya pemenuhan kebutuhan dan kesejahteraan manusia teknologi dan ekonomi. Melibatkan aspek biologis dan emosi yang bersangkutan. Memenuhi kualitas itu kecerdikan manusia memanipulasi macam-macam sumber daya dan energi yang tersedia dalam lingkungan dan terlihat bagaimana hubungan kebudayaan dengan pemenuhan kebutahan dan pengaruhnya terhadap pembentukan pranata-pranata sosial sebagai sarana untuk mengukuhkan berbagai tradisi atau kebiasaan yang berlaku dalam struktur masyarakat setempat.
A.A. Loedin (1982:10) menjelaskan tahapan ilmu pengetahuan dan teknologi manusia dalam upaya kesehatan sebagai :
  1. Mistik-religious,
  2. Kedokteran, dan
  3. Kesehatan.
Tahapan ini terkait dengan konsepsi masyarakat tentang sehat-sakit- penyebab-pengobatan dan penyembuhannya, yang terus berkembang seiring dinamika sejarah kebudayaan dan peradaban.
Disebut tahap mistik-religious, karena penyakit dipandang disebabkan dunia luar “supernatural”. Seperti kemasukan jin dan setan serta teguran arwah leluhur, kutukan Tuhan atau Dewa terinspirasi pelbagai ajaran agama. Penyembuhannya juga lewat pengusiran atau bujukan kepada kekuatan supernatural tersebut keluar dari penderita.
Dinamakan tahap kedokteran, ditemukannya pertama kali tahun 1850 oleh Robert Koch, penemu Bakteri Tuberculosa. Manusia memahami penyebab penyakit bukan dari dunia 1uar, tetapi dari sesuatu di dunia nyata ini “microcosmos” atau “natural” masuk ke tubuh manusia. Sehingga ilmu kedokteran menitikberatkan hasil laboratorium dan patho-microbiologi.
Dikatakan tahap kesehatan, khususnya pada peralihan abad terakhir, karena ilmu kedokteran kembali mengkaji manusia yang sehat dan faktor pencapaiannya, sebelum sakit dan seluruh faktor yang menjadi mata rantai penyakitnya. Disadari manusia sehat berasal dari masyarakat dan lingkungan ekologi sehat. Seseorang sakit dari masyarakat dan alam sekitar yang sakit. Itulah daur dari iklus sehat-sakit. Epidemi, prevalensi, endemi, dan pandemi penyakit terjadi akibat perubahan musim dan memburuknya kondisi lingkungan. Merentankan penjangkitan penyakit seseorang ke warga masyarakat lainnya. Semenjak itu, kesehatan dan ilmu kesehatan, menjadi bagian dari proses pembangunan manusia. Melepaskan penderitaan dan mencapai kenikmatan hidup sosial ekonomi yang dapat menjamin upaya kesehatan masyarakat dan lingkungan menyeluruh “holistik” dan keterkaitan struktural dan fungsional ”sistemik” (Loedin,1982:11; Foster, 1986: 45).
Selanjutnya, bagaimana kesehatan dalam kerangka kebudayaan di Indonesia? Ini bermula dari fenomena kebutuhan manusia meliputi: pangan, sandang, papan, kesehatan, pendidikan, sumber pendapatan (mata pencaharian, kecocokan jam kerja dengan upah), air bersih, tabungan hari tua (saving), transportasi, peralatan dan perabotan dasar hidup rumah tangga, partisipasi sosial, dan masa istirahat dengan atau tanpa rekreasi (Susenas, 1982).
Koentjaraningrat (1982) menggambarkan sistem sosial khusus dari sistem pelayanan kesehatan biomedis, yang dikendalikan oleh sistem kebudayaan. Di dalamnya terlihat dinamika interaksi dalam sistem sosial yang ditentukan oleh sistem budaya dalam sistem pelayanan biomedis tersebut.
Nilai dan norma kebudayaan serta sistem sosial menentukan usaha kesehatan. Baik biomedis (medis modern), kesehatan tradisional (medis tradisional), maupun kesehatan keluarga atau sendiri (home atau self treatment). Menurut penulis kelemahan konsep sistem sosial ini tidak eksplisit membedakan indikator tingkah laku dan perilaku serta tindakan yang pada hakikatnya satu ciri saja yakni dinamika bahasa fisik (body language) mengaktualisasikan organisasi respon dalam jiwa berupa sistem gerak gerik yang diwujudkan. Namun esensi nilai dan norma serta keorganisasian sosial yang menyertainya memberi makna bahwa upaya kesehatan, penyebab dan penyebaran penyakit serta model pengobatan dan penyembuhannya dipengaruhi kebudayaan dan peradaban masyarakat setempat.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Keterkaitan Sosial Budaya dalam Upaya Kesehatan di Indonesia"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel