-->

Peusijuek


BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Makna Peusijuek
Peusijuek adalah sebuah prosesi adat dalam budaya masyarakat Aceh yang masih dipraktikkan hingga saat ini. Peusijuek berarti menjadikan sesuatu agar dingin, atau mendinginkan. Tradisi peusijuek ini dilakukan pada hampir semua kegiatan adat dalam kehidupan masyarakat di Aceh. Misalnya ketika memulai sebuah usaha, menyelesaikan persengketaan, terlepas atau selesai dari musibah, menempati rumah baru, merayakan kelulusan, memberangkatkan dan menyambut kedatangan haji, kembalinya keluarga dari perantauan dan masih banyak lagi.
Pada kalangan masyarakat pedesaan di Aceh peusijuek merupakan prosesi adat yang cukup biasa dilakukan bahkan untuk hal-hal yang kecil sekalipun misalnya ketika membeli kendaraan baru atau ketika hendak menabur benih padi di sawah. Sementara bagi masyarakat perkotaan yang lebih modern tradisi peusijuek ini hanya dilakukan dalam kegiatan-kegiatan adat saja misalnya dalam prosesi adat perkawinan.
Ritual peusijuek ini mirip dengan tradisi tepung tawar dalam budaya Melayu. Di Aceh yang melakukan acara peusijuek adalah tokoh agama maupun adat yang dituakan di tengah masyarakat. Bagi kaum lelaki yang melakukan peusijuek adalah tokoh pemimpin agama Teungku (Ustadz) sedangkan bagi wanitanya adalah Ummi atau seorang wanita yang dituakan ditengah masyarakat. Diutamakan yang melakukan peusijuek ini adalah mereka yang memahami dan menguasai hukum agama sebab prosesi peusijuek ini diisi dengan acara mendoakan keselamatan dan kesejahteraan bersama sesuai dengan agama Islam yang dianut secara umum oleh masyarakat Aceh.
Tradisi Peusijuek ini merupakan salah satu tradisi lama masyarakat Aceh. Menurut sejarahnya, Tradisi Peusijuek ini merupakan salah satu peninggalan kebudayaan Hindu. Kebudayaan Hindu di Aceh sendiri disebabkan karena hubungan antara Aceh dan India di masa lampau, sehingga secara tidak langsung budaya Hindu yang dibawanya mulai mempengaruhi kebudayaan masyarakat Aceh. Salah satunya adalah dengan adaya Tradisi Peusijuek ini. Kata “Peusijuek” sendiri diambil dari kata “sijue’”, yang dalam bahasa Aceh berarti “dingin”. Sehingga dapat juga diartikan mendinginkan atau menyejukan.
Dahulu upacara peusijuk yang dilaksanakan masih menggunakan mantra atau doa-doa tertentu. Namun semenjak masuknya agama Islam di Aceh, tradisi tersebut kemudian diubah dengan memasukan unsur keIslaman di dalamnya seperti doa-doa keselamatan, shalawat, doa-doa dalam ajaran Islam lainnya. Walaupun seperti itu prosesi pelakasanaan Peusijuek ini masih tetap dipertahankan hingga seperti bentuk yang sekarang.
2.2 Perlengkapan Peusijuek
       a. Persiapan Peusijuek
Dalam kegiatan peusijuek  orang yang melaksanakan peusijuek (tengku) harus memahami tata cara dan doa-doa dalam peusijuek walaupun setelah itu disusul oleh orang-orang dekat dari yang dipeusijuek. Prosesi peusijuek dilakukan dengan  dibimbing atau diarahkan oleh pelaku inti, tentunya dengan  bacaan-bacaan surat Alfatihah dan ayat-ayat pendek lainnya. Terdapat empat unsur penting  dalam peusijuek yaitu bahan yang digunakan, gerakan yang dilakukan saat dipeusijuek, doa yang dibacakan menurut acara peusijuek, dan temutuek.
b. Benda-benda yang digunakan
Bahan-bahan yang digunakan dalam peusijuek berbeda-beda, tergantung dari orang yang melakukan peusijuek dan tradisi di suatu daerah. Benda-benda yang dipakai pada saat peusijuek ialah  talam satu buah, glok ie (tempat cuci tangan), breuh pade (beras) satu mangkok, bu lukat (nasi ketan) satu piring, beras bersama tumpoe atau kelapa merah, tupong taweue (tepung yang dicampuri air), sangee (tudung saji), boh kruet (jeruk purut), garam, gula dan air juga beberapa dedaunan, yaitu oen sineujuek (daun cocor bebek), oen manek manoe (daun warna warni) , oen naleng samboe (rumput saut), oen gaca (daun inai), oen seukee pulot, oen pineung, oen rehan dan oen sitawa (daun penawar).
Tata cara pelaksanaan peusijuek dilakukan dengan urutan: pertama dengan menaburkan beras padi (breuh padee), kedua menaburkan air tepung tawar, ketiga menyunting nasi ketan (bu leukat) pada telinga sebelah kanan dan terakhir adalah pemberian uang (teumutuek). Yang terakhir boleh dilakukan, boleh tidak, tergantung daerah masing-masing. 
2.3 Makna Filosofis Benda yang Digunakan Ketika Peusijuek
       Semua benda yang digunakan memiliki makna filosofis tersendiri dan semua dedaunan tersebut diikat menjadi satu dan digunakan sebagai alat mericikkan air.
Adapun bahan yang digunakan, misalnya :
> Dedaunan
1)      Oen sineujuek melambangkan dingin (mendinginkan)
2)      Oen manek-manoe melambangkan kerukunan
3)      Oen naleng sambo melambangkan kesatuan
4)      Oen gaca melambangkan keindahan
5)      Oen sekee pulot melambangkan kewangian
6)      Oen pineung melambangkan keharmonisan
7)      Oen rehan melambangkan kemuliaan
       Ketujuh dedaunan ataupun benda tersebut disatukan dan diikat menjadi lambang dari kekuatan, yaitu :
1)      Beras dan padi, melambangkan kesuburan, kemakmuran, dan semangat.
2)      Air dan tepung, melambangkan kesabaran dan ketenangan.
3)      Nasi ketan, melambangkan sebagai pelekat tali persaudaraan.
4)      Tumpoe, melambangkan agar tidak ada sifat rakus pada diri manusia.
5)      Garam dan gula melambangkan tidak ada perbedaan antara sesama manusia.
6)      Boh kruet melambangkan masih percaya dengan adat yang masih berlaku.
2.4 Jenis-jenis Peusijuek
       Dalam kalangan masyarakat Aceh, banyak sekali adat peusijuek. Antara lain, yaitu :
1)      Peusijuek Peutron Linto Baru
Apabila seseorang pengantin laki-laki ingin turun atau keluar meninggalkan orang tuanya, akan berangkat menuju rumah dara baro (pengantin perempuan), maka orang tua linto baro menepung tawari pengantin tersebut sebagai simbol kerelaan melepas kepergian anaknya menuju rumah calon istrinya.
2)      Peusijuek Teurimong Linto Baro dan Dara Baro
Peusijuek pengantin pria maupun pengantin wanita yang baru tiba di rumah calon mertua sebagai simbol pemberian berkah dan merestui perkawinan mereka berdua, semoga mereka dapat hidup rukun, mudah rezeki, dan berbahagia sampai hari tua di akhir hayat nanti.
3)      Peusijuek Meu Endam Dara Baroe atau Linto Baroe
Menepung tawari pengantin laki-laki dan pengantin perempuan di waktu dia akan di eundam atau berendam membersihkan muka, merapikan rambut, merapikan alis mata dan memangkas atau mencuci rambut, agar kelihatan rapi apabila dirias sebagai pengantin.
4)      Peusijuek Seumanoe Dara Baroe atau Linto Baro
Memandikan pengantin wanita maupun pengantin pria dan dalam acara seumanoe (siraman) akan ditampilkan ungkapan-ungkapan kata nasihat, peringatan dengan irama lagu yang indah dan diikuti tarian yang menawan.
5)      Peusijuek Duek Sandeng
Menepungtawari pengantin yang sedang duduk bersanding di atas pelaminan, dan yang melakukannya memberikan berkah dan restu kepada kedua mempelai, semoga hidup sejahtera.
6)      Peusijuek Meukatan Aneuk
Menepungtawari anak yang akan disunat rasulkan, untuk keberkatan serta cepat sembuh dari sunatan tersebut dan mendapat lindungan dari Allah apabila dewasa.
7)      Peusijuek Meulanga
Menepungtawari orang yang melaksanakan perdamaian, misalnya perdamaian karena penganiayaan, karena peperangan, dan lain-lain. 
8)      Peusijuek Utoh Rumoh dan Cok Mata Kayee
Menepungtawari tukang rumah serta mengambil mata kayu, artinya jika seseorang ingin mendirikan rumah tukang yang membuat rumah dan perkakasnya di peusijuek dulu. Selesai peusijuek, utoh melaksanakan tugasnya yaitu memulai pekerjaannya secara simbolik dengan membuat satu buah lubang pahatan pada satu tempat di kayu tiang yang sudah ditandai. Lalu,  membacakan doa.
9)      Peusijuek Peudong Reumoh
Menepungtawari kayu rumah yang selesai dikerjakan dan akan didirikan, pada pagi hari yang sudah disepakati dan sudah dilihat waktu yang baik.
10)  Peusijuek Buka Keudee
Menepungtawari toko yang baru dibuka untuk berjualan, sebelum toko tersebut resmi dibuka untuk umum.
11)  Peusijuek Keureuebuen
Menepungtawari hewan kurban, sebelum menyerahkannya kepada penitia kurban dipeusijuek terlebih dahulu oleh sang keluarga si pemilik kurban, dengan niat agar Allah memberkahi keluarga yang menyerahkan dan hewan tersebut dapat diterima sebagai amal dan ibadah.

12)  Peusijuek Kenderaan
Upacara menepungtawari kendaraan yang baru dibeli, seperti mobil, kereta roda dua, dan lain-lain yang bertujuan untuk keberkatan.
13)  Peusijuek Kilang (Pabrik)
Mempertepungtawari pabrik (mesin yang dapat memproduksi suatu barang yang bermanfaat digunakan masyarakat banyak), sebelum digunakan dipeusijuek dulu.
14)  Peusijuek Ureung Jak U Haji dan Wo Haji
Menepungtawari orang yang mau pergi menunaikan ibadah haji dan begitu pula apabila sudah pulang dari Mekkah, dengan niat agar mendapat berkah dan selamat dalam perjalanan hingga sampai kembali ke kampung halaman.
15)  Peusijuek Ureung Lhueh Nibak Bala
Menepungtawari orang terhindar atau lepas dari bala (kecelakaan). Dengan harapan agar di masa mendatang tidak terjadi lagi.
16)  Peusijuek Jamee
Menepungtawari tamu yang merupakan suatu acara yang sudah menjadi tradisi dalam kalangan masyarakat Aceh. Peusijuek ini berhubungan erat dengan ketokohan dan wibawa seorang tamu, semakin tinggi wibawa seseorang tamu maka semakin meriah acara peusijuek dilaksanakan.
17)  Peusijuek Inong Meuaneuk
Menepungtawari perempuan yang baru melahirkan, sebagai ungkapan syukur dan simpati serta penghargaan kepada anak perempuan yang baru melahirkan tersebut. Hal ini merupakan simbol dari ukhuwah Islamiah dan rasa kedekatan antara sesama warga serta sebagai ucapan selamat kepada yang melahirkan karena telah selamat dan lancar, tidak terjadi kesulitan.
18)  Peusijuek Padee Bijeh
Menepungtawari padi yang akan dijadikan sebagai bibit, sebelum padi direndam dan sebelum padi ditaburi ditempat penyemaian maka padi tersebut dipeusijuek terlebih dahulu, pendapat orang Aceh bahwa agar terhindar dari serangan hama yang merusak bibit padi tersebut.




DAFTAR REFRENSI







Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Peusijuek"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel